HATI
detik waktu yang terurai
di sepanjang langkahku
curam securam ngarai
tajam setajam sembilu
aku tak melihat dibalik dinding
memaksaku tak berpaling
hanya pekat cahaya muram
menyelimuti setiap malam
gemericik air masih kudengar
bersama anak angsa merintih
menunggu pagi yang datang
ingin segera membawa pulang
di dadaku masih tersimpan asa
meski kian jauh tangan meraih
warna kelam terbentang disana
mengikis hari yang jauh beralih
masih terngiang pesan bunda
menjelang pergi bersama angin
jangan pernah menyerah, nak
meski berliku nanti kan lapang
hati rasanya ingin menangis
kala airmata telah mengering
terhempas di bawah kaki bukit
bersandar pada bayang langit
aku ingin berhenti sampai disini
tapi aku tak mampu kembali
menatap wajah-wajah sayu
yang bersenandung lagu sendu
pucuk daun cemara berbisik
melambaikan tangannya
sekadar memberi satu tanda
bahwa kita masih bersama
semilir bayu yang sejuk
kini pun enggan mengalir
udara sesak kian merasuk
membakar jiwa yang getir
aku ingin berbaring sejenak
nikmati hari hari yang kosong
sambil membaca seribu sajak
lembar kisah para pembohong
aku teringat sebuah janji
tertuang dibatas cakerawala
dalam lelah hati kubernyanyi
menunggu waktu untuk berbicara
No comments:
Post a Comment